"DAN HENDAKLAH ADA DI ANTARA KAMU SEGOLONGAN UMAT YANG MENYERU KEPADA KEBAJIKAN, MENYURUH KEPADA YANG MAKRUF, DAN MENCEGAH DARI YANG MUNGKAR. MEREKALAH ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG" (QS ALI IMRAN:104)


JADIKANLAH HIDUP INI SEBAGAI LADANG AMAL UNTUK BEKAL DI AKHERAT KELAK YANG ABADI. HIDUP HANYA SEKALI, JANGANLAH KITA SIA-SIAKAN. INILAH SAAT YANG MENENTUKAN TEMPAT KITA KELAK, DI SURGA......, ATAUKAH NERAKA......



Sabtu, 13 Agustus 2011

SUNNAH RASULULLAH (PEMAHAMAN)

Assalaamu Alaikum Warakhmatullaahi  Wabarakaatuh. Suatu hari ketika saya selesai sholat berjamaah di masjid sebagaimana perintah Rasulullah untuk melaksanakan sholat lima waktu di masjid (sunnah Rasulullah), ada seseorang yang mendekati saya kemudian menegur “ Assalaamu Alaikum”  sayapun menjawab salamnya dengan tersenyum. Akhirnya terjadilah perbincangan panjang, dan saat itu dia menanyakan pada saya kena apa tidak berpakaian seperti yang dikenakannya (pakaian jubah yang biasa dipakai oleh orang2 Arab). Lalu sayapun bertanya, apakah pakaian saya ini tidak boleh untuk sholat ?,  yang penting kan suci dan menutup aurat ? ( saat itu saya pakai celana panjang dengan baju yg terjuntai menutup sampai ke paha). Dia menjawab , ini sunnah Rasulullah. Akhirnya saya hanya diam, agar tidak terjadi perdebatan panjang, dan pamitan pulang. Dari pengalaman tersebut, saya bertanya-tanya, apakah benar menjalankan sunnah Rasul itu dengan cara meniru persis tindakan Rasul, misal dalam sholat memakai jubah seperti Rasulullah.  Nah karena peristiwa itu maka saya tergelitik untuk menulis di sini.

Berbicara tentang sunnah Rasulullah, maka ada dua pemahaman yang sekarang ini berlaku di masyarakat Islam Indonesia.  Pemahaman tersebut kurang lebih adalah sebagai berikut :

PEMAHAMAN PERTAMA  :

·    Bahwa Sunnah adalah semua tindakan ataupun diamnya Rasulullah.
Pemahaman yang pertama ini, cenderung menganggap bahwa untuk mengamalkan sunnah Rasulullah, seseorang harus mencontoh persis semua tindakan Rasul. Bagaimana Beliau berpakaian, makan minum ,dan dengan apa Beliau gosok gigi, semua dicontoh dengan berusaha sama persis, sehingga kelompok  muslim yang pertama ini menggosok gigi dengan kayu siwak, persis seperti Beliau.

PEMAHAMAN KEDUA :


·    Bahwa Sunnah adalah hikmah yang terkandung di dalam semua tindakan dan diamnya Rasulullah.
Pemahaman yang ke dua ini, lebih terbuka dan fleksibel, dan menganggap bahwa untuk mengamalkan sunnah Rasulullah, tidak harus mencontoh persis semua tindakan Beliu, namun cukup dengan mencontoh hikmah yang tersembunyi di balik tindakan Beliau, misalnya dalam hal gosok gigi, maka yg dianggap sunnah adalah hikmah dari gosok gigi yaitu bersih dan tidak bau. Sehingga kelompok kedua ini menggosok gigi dengan alat selain kayu siwak.
Nah.....  dari dua macam cara pandang ini mana yang benar  ? , silahkan anda menilai sendiri, namun saya di sini akan coba menyampaikan apa yang menjadi pendapat saya. 

Hal pertama yang kita harus sadari adalah :

-     BAHWA ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA INI, MEMANG SENGAJA DIBUAT MENJADI BER MACAM-MACAM SUKU BANGSA, BAHASA DAN KEBUDAYAAN, YANG SEMUANYA INI DIRANCANG AGAR MANUSIA SALING KENAL MENGENAL DAN MENYADARI KEMAHA BESARAN  DAN KEMAHA AGUNGAN ALLAH.
Hal ini bisa kita lihat pada ayat Al-Quran sebagai berikut :


“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “    (QS  AL  HUJURAAT : 13)

Dengan menghayati  ayat di atas, maka sudah jelas bahwa ALLAH tidaklah menginginkan manusia menjadi satu bangsa, satu budaya, dan satu bahasa, yang semua ini dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran ALLAH. Dan dinyatakan juga bahwa semua manusia/bangsa adalah sama derajatnya, yang membedakan hanyalah ketaqwaan terhadap ALLAH, demikianlah derajat kemuliaan manusia dalam pandangan ALLAH.

Lalu apa sesungguhnya yang diinginkan / diperintahkan  ALLAH kepada manusia ?,  
Yang diinginkan ALLAH yaitu agar manusia bernaung dalam satu agama,  yaitu agama Islam. Jadi manusia yang diciptakan ALLAH menjadi berbangsa-bangsa ini dipersatukan oleh satu agama yaitu Islam, yang tentunya ini tak lepas dari tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah pada ALLAH, dan menjadi khalifah di muka Bumi.

Lalu apa hubungan ayat di atas dengan Sunnah ?, bisa dijelaskan sebagai berikut :

Bahwa ALLAH memang memerintahkan manusia untuk meneladani Rasulullah sebagaimana tercantum dalam AL-QUR’AN :


Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  (QS AL  AHZAB : 21)

KATA “Uswatun”  yang di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Teladan” sebenarnya mempunyai makna yang lebih luas. Meneladani Rasulullah bukan berarti meneladani secara lahiriah dan sama persis dengan meniru pakaian Rasulullah misalnya. Meneladani adalah lebih ditekankan kepada hikmah dari pakaian maupun tindakan Rasulullah yang menuju kepada ketaqwaan terhadap ALLAH.  Jika kita memahami Sunnah Rasul dengan pemahaman yang pertama, maka akan banyak sekali mengalami kesulitan dalam melaksanakannya, dan justru terasa janggal dan tidak pas dengan  QS  AL  HUJURAAT ayat  13, karena ALLAH tidak menghendaki kita untuk menjadi bangsa Arab seperti Rasulullah Muhammad. Adapun kesulitan kesulitan yang saya maksud di dalam pelaksanaannya adalah misalnya, pakaian yang dipakai Rasul jaman dahulu, tentunya bahannya sudah tidak ada lagi diproduksi, lalu bagaimana kita mau meniru Rasulullah ?. Bukankah konsekuensi dari pemahaman pertama, ingin mencontoh Rasul secara persis ?. Kalau Rasulullah dahulu naik onta, maka apakah kita di jaman sekarang mau naik onta ?, lalu bagaimana dengan bangsa2 yang di daerahnya tidak ada onta ? apa harus mendatangkan dari Arab ?, tentu saja akan menjadi mahal dan susah untuk melaksanakan itu. 

Hal lain yang kita perlu sadari yaitu :

BAHWA ISLAM DAN AL-QURAN DIRANCANG ALLAH UNTUK SELURUH MANUSIA DI SEGALA ZAMAN YANG SENGAJA DICIPTAKAN ALLAH MENJADI BER BANGSA-BANGSA, JADI ISLAM AKAN SELALU SELARAS DAN COCOK UNTUK SEGALA ZAMAN DAN AKAN BERLAKU SETERUSNYA SAMPAI SAATNYA  KIAMAT.

Bila pemahaman pertama kita terapkan, berarti dunia Islam se akan2 dilarang untuk berkembang, karena semua umat muslim mencontoh persis cara hidup Rasulullah. Sehingga dunia Islam akan statis dan tidak berkembang. Tentunya hal ini bukanlah yang diinginkan oleh ALLAH. Karena manusia dengan perannya sebagai Khalifah di bumi, dibekali oleh ALLAH dengan kemampuan daya pikir yang mampu mengelola bumi, yang sudah disiapkan oleh ALLAH untuk menunjang kelangsungan hidup manusia, dan itu tersirat di dalam Al-Quran sebagai berikut :



Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".  Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" .  Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.   Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"  (AL BAQARAH : 30 – 33)

Dari ayat di atas tersirat bahwa Allah mengajarkan nama2  seluruhnya, untuk membuktikan kepada para malaikat bahwa Adam punya kelebihan di kemampuan akal, yang nantinya akan sesuai dengan perannya sebagai khalifah di bumi. Dan karena daya pikir inilah manusia menjadi berkembang budayanya.

ISLAM adalah Islam dengan ajarannya,  dan Arab adalah bangsa dengan budayanya. Dalam hal pakaian misalnya Islam hanya mendiskripsikan bahwa pakaian Islam adalah pakaian yang menutup aurat. Modelnya seperti apa , bebas yang penting menutup aurat (tidak menampakkan lekuk tubuh).  

Para Nabi2 ALLAH di dalam Al-Quran dinyatakan bahwa mereka semua beragama Islam

  

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS  AL BAQARAH : 132 - 133)


Nah..... ayat-ayat di atas menyatakan bahwa para Nabi pendahulu itu juga beragama Islam . Pertanyaannya adalah ,  apakah pakaian yang mereka kenakan adalah sama dengan model yang dipakai Rasulullah ?. kemungkinan adalah tidak, karena mereka berjarak waktu ratusan bahkan ribuan tahun dari Rasulullah Muhammad. Itu berarti bahwa masalah model pakaian tidaklah menjadi masalah dalam ajaran Islam, yang ditekankan hanyalah “menutup aurat” .

Dari uraian di atas maka bisa kita tarik kesimpulan, bahwa meneladani Rasulullah bukanlah  dengan meniru persis semua tindakan Rasul ,  akan tetapi  dilaksanakan dengan meneladani hikmah dari semua tindakan Rasulullah. Dengan demikian untuk menjadi seorang muslim yang baik, yang meneladani Rasulullah, tidak harus memakai jubah ala orang Arab, tapi pakailah perpaduan budaya Indonesia dengan ajaran Islam yang mengharuskan menutup aurat , dan pada umumnya masyarakat muslim Indonesia memakai baju Koko longgar , ada juga yang memakai kain sarung yang memang  khas Indonesia.

Kira-kira demikianlah pendapat saya,  silahkan anda menilai dan memilih mana yang menurut anda lebih pas untuk anda.

Wassalaamu Alaikum Warakhmatullaahi  Wabarakaatuh.  

SILAHKAN JIKA ANDA INGIN BERKOMENTAR